"KOMUNITAS PECINTA SEJARAH KOTA TUA"

Selasa, 10 Januari 2012

Lnong dari Kata Lay dan Nong

Lenong merupakan teater tradisional Betawi yang diperkirakan mulai muncul pada akhir abad ke-19. Lakon dalam pertunjukan lenong biasanya diambil dalam kisah kehidupan sehari – hari yang berisikan pesan – pesan moral. Dalam berdialog, pemain lenong menggunakan bahasa Indonesia dialek Betawi yang sesekali ditingkahi dengan musik gambang kromong.
Menurut Ninuk Kleden, sampai saat ini terdapat dua versi tentang asal - usul lenong yang sebenarnya masih berhubungan. Versi pertama mengatakan, teater lenong mempunyai hubungan yang erat dengan bentuk teater di Tiongkok menurut versi kedua, lenong memperlihatkan keterkaitanya dengan parsi.

Pada awalnya lenong dibawakan oleh sekumpulan warga keturunan China di daerah Tangerang. Menurut cerita, pertunjukan ini dipimpin oleh Tuan Lay. Primadona kesenian ini adalah anak Tuan Lay yang biasa dipanggil si Nong. Dari paduan dua nama Lay dan Nong inilah muncuk kata lenong.

Ciri khas kesenian lenong adalah monolog dan dialog yang dilakukan para pemainya. Meskipun sudah di dasarkan pada skenario yang disusun, namun para pemain tetap bebas melakukan inprovisasi. Monolog diucapkan pada permulaan adegan, bertujuan untuk memperkenalkan tokoh yang akan diperankan beserta situasi lingkunganya. Sementara dialog terbagi atas dua jenis, yakni yang berhubungan dengan cerita dan yang terlepas dari cerita itu.
Termasuk dalam dialog adalah lawakan yang menurut istilah Betawi disebut bodoran. Bisa dikatakan bodoran mendominasi sebagian besar dialog. Bahkan adegan sedih sering diucapkan dengan bodoran itu. Kedudukan tokoh bodor tidak jauh berbeda dengan kedudukan tokoh panakawan pada epos Mahabarata dalam pertunjukan wayang. Ciri khas lain dari kesenian lenong adalah adanya bentuk tari dan silat. Tari diiringi oleh orkes melayu dan dikenal dengan istilah joget. Dilakukan diluar panggung dengan melibatkan penonton. Sementara tari silat diiringi musik gambang kromong di atas panggung, biasanya dilakukan seorang diri oleh tokoh pembawa peran.

Beberapa tokoh bodor yang dikenal antara lain Anen, Nasir, Nirin, Bodong, Bolot, dan Nori. Pada masa jaya, acara lenong selalu ditunggu – tunggu pemirsa TVRI. Namun setelah munculnya grup – grup lawak, kesenian lenong tersisihkan. Memang pernah ada kelompok yang mencoba menghidupkan kembali dengan kemasan lebih moderen. Pada salah satu stasiun televise swasta, misalnya, secara periodik detayangkan acara Lenong Rumpi yang bertahan beberapa tahun saja.

(Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar