"KOMUNITAS PECINTA SEJARAH KOTA TUA"

Jumat, 02 Maret 2012

Iklan Kebutuhan Rumah Tangga

Sekitar tahun 1934-1935, setelah malaise melanda dunia berakhir, perekonomian di Hindia-Belanda mulai bangkit lagi. Arus perdagangan hasil bumi, baik berupa hasil perkebunan maupun hasil pertambangan, keluar negeri secara perlahan-lahan membuat kondisi perekonomian membaik. Perkebunan dan perusahaan sudah mulai merekrut pekerja lagi, setelah sebelumnya terjadi PHK besar-besaran, baik disektor jasa maupun yang padat karya, seperti perkebunan.

Dengan bergairahnya ekonomi maka penjualan barang-barang kebutuhan pokokpun meningkat. Barang-barang kebutuhan sekunder mulai ramai diperdagangkan. Dari advertensi yang dimuat di surat kabar terbitan Medan, Jakarta, Semarang, dan Surabaya tercermin bagaimana upaya produsen memikat hati konsumen. Barang-barang impor mulai membanjiri pasar Hindia-Belanda.

Majalah De Huisvrouw in Indie, yang terbit di Medan, setiap bulan membuat daftar harga barang kebutuhan rumah tangga seperti sabun, mentega, makanan kaleng, sirup, pastagigi, dan teh. Dari sisi harga, tampaknya terjadi inflasi yang tingkatnya bervariasi pada barang eks luar negeri seperti tampak dari beda harga enam bulan. Meski ternyata ada juga harga barang yang harganya turun. Beberapa merek masa itu masih kita dapati produknya sekarang.

Pada desember 1933, harga sabun Sunlight sebesar f 0,28 (juni 1934 tetap f 0,28), Rinso f 0,19 (f 0,20) sabun mandi Lux f 0,25 (0,30), mentega Wijsman 2,5 kg f 3,25 (f 3), Delicia 5 lbs f 1,50 (f 1,65), margarine Blue Band 5 lbs f 1 (f 1,50), ikan kaleng sarden Peneau f 0,45 (f 45), kornet Delima f 0,25 (f 0,25), kornet Bovril f 0,25 (f 0,30), sirup Lauw Tjin f 0,30 (f 0,30), fruit salad Del Monte f 0,75 (f 0,65).
Alwi Sahab dalam Djakarta Tempo Doeloe (2-12-2001) menulis, di masa itu seliter beras berharga 2 sen atau satu gobang (2,5 sen), sehingga 1 gulden (100 sen) bisa mendapat 40 liter beras. Sedang dalam cerita Kwee Tek Hoay ditulis, sebuah keluarga sederhana tanpa anak bisa hidup dengan f 80 perbulan dan sewa rumah kecil di gang sebesar f 15 sebulan.

Iklan displai terbanyak adalah susu, mulai dari Viking produksi Nestle Milk CO, lalu Friesche Vlag, Milk Maid, Glaxo, Bear Brand, Ovomaltine Alpine, Lactogen, lalu disusul iklan makanan ringan.

(Hendry ch Bangun)

Selasa, 10 Januari 2012

Selintas Gedung Harmoni


Pada saat Gedung Harmonie, lengkapnya Societeit de Harmonie, merupakan gedung bergengsi, tidak sembarangan orang boleh datang ke tempat ini. Gedung Harmonie atau Harmonie Club yang dulu pernah berdiri di wilayah Hrmoni sekarang, merupakan tempat berkumpul masyarakat Hindia Belanda di Batavia. Pelopor pendirian gedung adalah Reinier de Klerk pada tahun 1776. masud pendirian agar gaya hidup orang-orang Belanda tidak terlalu urakan. Sebelum ada gedung ini, di sepanjang Kali Ciliwung banyak berdiri kedai minuman.
Awalnya, banyak orang mengajukan keberatan atas gagasan Klerk. Namun akhirnya tempat yang diinginkan terlaksana di Jalan Pintu Besar Selatan sekaran. Pada saat pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels tahun 1808 , gedung itu dianggap jorok, maka kemudian Daendels memindahkan gedung itu ke pinggir kota sehingga bisa menghirup udara yang lebih segar. Pembangunan gedung baru menghabiskan dana besar yang sebagian disokong oleh Balai Harta Peninggalan dan Daendels memerintahkan semua pegawai negeri, militer, sipil, harus menjadi anggota Societeit untuk mengumpulkan dana.
Ketika Daendels kembali ke belanda pada tahun 1811, pembangunan gedung agak tersendat. Begitu pula sewaktu jabatan Gubernur Jenderal dipegang penggantinya. Janssens. Gubernur Jenderal Inggris Raffles-lah yang kemudian memberikan perhatian kepada kelanjutan pembangunan gedung. Bahkan Raffles membuka secara resmi pada 18 Januari 1815.
Gedung Hrmonie begitu mentereng, megah, dan kokoh, serta ditandai tulisan di bagian tengah “ HARMONIE “. Di dalam gedung juga terdapat sejumlah meja billiard. Gedung Hrmonie secara sinis sering disebut Jenewerpaleis atau Gin Palace ( Istana Jenewer ).

Banyak pesta makan dan pesta dansa diselenggarakan disini. Suasana teramai adalah saat makan tengah malam sambil minum anggur dibawah sinar rembulan di teras yang ditanami bunga-bunga. Konser musik dan pasar malam pernah beberapa kali digelar. Pesta paling meriah berlangsung 18 Januari 1940 untuk menyambut ulang tahun ke-125 perkumpulan tersebut. Pesta peringatan 250 tahun kota Batavia pada 29 Mei 1869 juga digelar disana.

Selepas kemerdekaan RI, gedung itu semakin merana. Tahun 1970-an hingga 1980-an Gedung Harmonie dipakai sebagai kantor Gabungan Importir Nasional Indonesia. Lalu, gedung tersebut dibongkar pada Maret tahun 1985. selanjutnya lahanya digunakan untuk perluasan areal parkir Kantor Sekertariat Negara dan pelebaran jalan disampingnya.

( Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya )

Gembok Penangkal Selingkuh


Dua buah koleksi museum nasional yang belum banyak diketahui orang adalah cupeng dan badong. Kedua koleksi itu berkenaan dengan kaum wanita dan terdapat di Ruangan Khasanah.
Cupeng adalah semacam celana bergembok atau berkunci. Istilah ini dikenal di Aceh. Pada awalnya cupeng merupakan benda upacara yang dipakai anak wanita kecil. Dan berfungsi sebagai penutup kelamin, dan berfungsi sebagai penutup kelamin. Bentuknya seperti hati dan pemasangannya diikat dengan benang pada perut si anak. Salah satu artefak yang terkenal berbahan emas 22 karat, berukuran tinggi 6,5cm dan lebar 5,8cm.
Kemungkinan cupeng emas itu digunakan oleh orang terpandang. Artefak tersebut penuh ukiran, pinggiranya berhiaskan motif tapak jala, bagian tengah bermotif bunga teratai dikelilingi deretan bunga bertajuk empat helai dalam bentuk belah ketupat. Bagian bunga tadi bermatakan jakut merah.
Menurut tradisi lama, cupeng harus dipakai oleh anak wanita yang berusia dua hingga lima tahun. Atau digunakan ketika anak mulai berjalan sampai anak pandai menggunakan sarung sendiri. Mereka percaya, cupeng merupakan penangkal roh jahat.
Hampir serupa dengan cupeng adalah badong. Badong merupakan perhiasan untuk wanita bangsawan atau tokoh yang dihormati. Penggunaanya diletakan diluar kain, tepat di depan. Badong adalah simbol bagi wanita yang sudah menikah dan dipakai pada saat suami mereka sedang berperang atau sedang berada diluar rumah. Badong juga dipakai oleh para petapa atau pendeta wanita. Maskudnya untuk melawan godaan agar selamanya tidak melakukan hubungan intim dengan lawan jenis.
Badong berbahan emas ini ditemukan di daerah Madiun, kemungkinan berasal dari masa Kerajaan Majapahit sekitar abad ke 14/15. yang unik, permukaan badong dihiasi relif cerita si tanjung, seorang wanita suci yang dituduh berselingkuh oleh suaminya, sidapaksa dan kemudian dibunuh. Namun suatu saat Dewi Durga datang menolong Sri Tanjung dengan memberikan seekor Gajamina ( ikan gajah ) untuk menyebrangi sungai dunia bawah menuju surga sebagai imbalan atas kesucian dirinya.
Supeng dan badong adalah peninggalan masa lalu, selain sebagai benda budaya, juga menunjukan bahwa kaum wanita sudah mendapat perhatian khusus sejak lama.

( Djulianto Susantio )