Kehadiran orang Belanda ke Indonesia yang semula hanya untuk berdagang lalu menjadi penguasa, sangat mempengaruhi kebudayaan serta gaya hidup orang Indonesia. Salah satunya adalah tumbuhnya budaya Indis.
Suburnya budaya ini, pada awalnya di dukung oleh kebiasaan hidup membujang para pejabat Belanda ( karena saat itu ada larangan membawa isteri dan mendatangkan perempuan ke Hindia Belanda ).
Hal ini mendorong para lelaki Belanda menikahi penduduk setempat. Maka, terjadilah percampuran darah yang melahirkan anak-anak campuran serta menumbuhkan budaya dan gaya hidup Belanda Pribumi. Yang disebut budaya Indis ( Djoko Soekiman, 2011 ).
Termasuk dalam budaya ini adalah kebiasaan-kebiasaan yang khas Indonesia namun dilakukan oleh orang asing ( Belanda ), seperti : sering mandi, mengunyah sirih, berjudi kartu Cina, mengkonsumsi jamu, percayac guna-guna juga berkonsultasi dengan dukun ( Susan Blackburn, 2011 ).
Seperti kejadian menarik yang terjadi di Batavia pada akhir awal abad 20 lalu.
Ketika isteri seorang pegawai dari Volkslectuur kehilangan perhiasan yang disimpan di dalam koper yang tidak terkunci. Perempuan itu menghubungi dukun untuk menemukan perhiasan yang hilang. Namun petunjuk dari dukun tidak menghasilkan. Perhiasan tetap tidak dapat ditemukan.
Ternyata, meskipun pemerintah Hindia Belanda berusaha dengan keras untuk menghilangkan Budaya Indis, karena dianggap sebagai gaya hidup yang terlalu pribumi, nyatanya kebudayaan ini tidak serta merta langsung menghilang dalam kehidupan masyarakat Batavia.
( Lily Utami, pemerhati kebudayaan dan sejarah )
Minggu, 13 Mei 2012
Minggu, 01 April 2012
Pengaruh Budaya Tionghoa di Betawi
Pada abad ke-16 dan ke-17 terjadi eksodus besar-besaran orang Tionghoa ke bagian selatan Cina, yaitu ke wilayah Asia Tenggara, termasuk nusantara. Kejadian itu disebabkan karena adanya perang saudara dan kemarau berkepanjangan disana.
Pada saat bersama VOC berkuasa di Batavia. Untuk memperlancar pembangunan, mereka memerlukan banyak tenaga kerja. Karena itu mereka mengambil tenaga kerja asal Cina yang dinilai ulet dan rajin.
Sejak itu kebudayaan Cina banyak bercampur dengan kebudayaan Betawi dan masuk ke dalam berbagai aspek kehidupan. Misalnya bahasa, nama tempat, arsitektur, kesenian dan kuliner. Bisa dimaklumi kalau Batavia menjadi kota yang multietnis, Selain sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda, kota Batavia awalnya berada disekitar pelabuhan Sunda Kelapa. Banyak orang dari berbagai suku dan ras datang untuk berdagang, termasuk orang-orang dari daratan cina.
Dalam kosa kata setiap hari banyak istilah Cina yang sudah dianggap punya orang Betawi. Sebut saja cepek (seratus), engkong (kakek), gua (saya), lu (kamu), cabo (pelacur), sekoteng (minuman sejenis wedang jahe), centeng (penjaga malam), toko (tempat bertransaksi), cincau ( minuman ringan dari sari daun), bakiak (sandal dari kayu). Sejak lama rupanya orang-orang Betawi dan Cina sudah bersosialisasi, baik sebagai sahabat, relasi bisnis maupaun hubungan pembantu-majikan.
Busana tradisional Betawi juga berakulturasi dengan busana Cina. Baju koko atau tikim berasal dari dialek Tionghoa, tuikim. begitu pula dengan kebaya encim, dalam dialek Hokkian encim adalah tante. Aksesori sanggul seringkali berujud burung hong, yaitu merupakan hewan mitologi dalam kebudayaan cina.
Bidanglain yang mendapat pengaruh budaya cina adalah kesenian, terlihat jelas pada gambang kromong, cokek dan lenong. Petasan dan kembang api yang tadinya dibakar menjelang Tahun Baru Imlek, menjadi pelengkap setiap hajatan masyarakat Betawi.
Di bidang arsitektur, pengaruh Tionghoa juga cukup kuat. Bagian depan rumah betawi diberi hiasan pembatas berupa langkan. Lalu agar tampak indah dan tidak kusam, pintu dan jendela hasrus dicat. Istilah ubin, lonceng, pangkeng (kamar tidur), kongkow, teh kuaci, tapang (bermakna balai-balai), langseng, anglo, topo, kemoceng, dan pengki juga berasal dari dialek Hokkian.
Di bidang kuliner ada kecap, mi, bihun, tahu, toge, tauco, kucai, lokio, juhi, ebi, dan tepung hunkue. Inilah bukti sejarah yang tidak akan hilang oleh waktu.
(Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)
Pada saat bersama VOC berkuasa di Batavia. Untuk memperlancar pembangunan, mereka memerlukan banyak tenaga kerja. Karena itu mereka mengambil tenaga kerja asal Cina yang dinilai ulet dan rajin.
Sejak itu kebudayaan Cina banyak bercampur dengan kebudayaan Betawi dan masuk ke dalam berbagai aspek kehidupan. Misalnya bahasa, nama tempat, arsitektur, kesenian dan kuliner. Bisa dimaklumi kalau Batavia menjadi kota yang multietnis, Selain sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda, kota Batavia awalnya berada disekitar pelabuhan Sunda Kelapa. Banyak orang dari berbagai suku dan ras datang untuk berdagang, termasuk orang-orang dari daratan cina.
Dalam kosa kata setiap hari banyak istilah Cina yang sudah dianggap punya orang Betawi. Sebut saja cepek (seratus), engkong (kakek), gua (saya), lu (kamu), cabo (pelacur), sekoteng (minuman sejenis wedang jahe), centeng (penjaga malam), toko (tempat bertransaksi), cincau ( minuman ringan dari sari daun), bakiak (sandal dari kayu). Sejak lama rupanya orang-orang Betawi dan Cina sudah bersosialisasi, baik sebagai sahabat, relasi bisnis maupaun hubungan pembantu-majikan.
Busana tradisional Betawi juga berakulturasi dengan busana Cina. Baju koko atau tikim berasal dari dialek Tionghoa, tuikim. begitu pula dengan kebaya encim, dalam dialek Hokkian encim adalah tante. Aksesori sanggul seringkali berujud burung hong, yaitu merupakan hewan mitologi dalam kebudayaan cina.
Bidanglain yang mendapat pengaruh budaya cina adalah kesenian, terlihat jelas pada gambang kromong, cokek dan lenong. Petasan dan kembang api yang tadinya dibakar menjelang Tahun Baru Imlek, menjadi pelengkap setiap hajatan masyarakat Betawi.
Di bidang arsitektur, pengaruh Tionghoa juga cukup kuat. Bagian depan rumah betawi diberi hiasan pembatas berupa langkan. Lalu agar tampak indah dan tidak kusam, pintu dan jendela hasrus dicat. Istilah ubin, lonceng, pangkeng (kamar tidur), kongkow, teh kuaci, tapang (bermakna balai-balai), langseng, anglo, topo, kemoceng, dan pengki juga berasal dari dialek Hokkian.
Di bidang kuliner ada kecap, mi, bihun, tahu, toge, tauco, kucai, lokio, juhi, ebi, dan tepung hunkue. Inilah bukti sejarah yang tidak akan hilang oleh waktu.
(Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)
Iklan Kebutuhan Rumah Tangga
sekitar tahun 1934-1935, setelah malaise melanda dunia berakhir, perekonomian di Hindia-Belanda mulai bangkit lagi. Arus perdagangan hasil bumi, baik berupa hasil perkebunan maupun hasil pertambangan, keluar negeri secara perlahan-lahan membuat kondisi perekonomian membaik. Perkebunan dan perusahaan sudah mulai merekrut pekerja lagi, setelah sebelumnya terjadi PHK besar-besaran, baik disektor jasa maupun yang padat karya, seperti perkebunan.
Dengan bergairahnya ekonomi maka penjualan barang-barang kebutuhan pokokpun meningkat. Barang-barang kebutuhan sekunder mulai ramai diperdagangkan. Dari advertensi yang dimuat di surat kabar terbitan Medan, Jakarta, Semarang, dan Surabaya tercermin bagaimana upaya produsen memikat hati konsumen. Barang-barang impor mulai membanjiri pasar Hindia-Belanda.
Majalah De Huisvrouw in Indie, yang terbit di Medan, setiap bulan membuat daftar harga barang kebutuhan rumah tangga seperti sabun, mentega, makanan kaleng, sirup, pastagigi, dan teh. Dari sisi harga, tampaknya terjadi inflasi yang tingkatnya bervariasi pada barang eks luar negeri seperti tampak dari beda harga enam bulan. Meski ternyata ada juga harga barang yang harganya turun. Beberapa merek masa itu masih kita dapati produknya sekarang.
Pada desember 1933, harga sabun Sunlight sebesar f 0,28 (juni 1934 tetap f 0,28), Rinso f 0,19 (f 0,20) sabun mandi Lux f 0,25 (0,30), mentega Wijsman 2,5 kg f 3,25 (f 3), Delicia 5 lbs f 1,50 (f 1,65), margarine Blue Band 5 lbs f 1 (f 1,50), ikan kaleng sarden Peneau f 0,45 (f 45), kornet Delima f 0,25 (f 0,25), kornet Bovril f 0,25 (f 0,30), sirup Lauw Tjin f 0,30 (f 0,30), fruit salad Del Monte f 0,75 (f 0,65).
Alwi Sahab dalam Djakarta Tempo Doeloe (2-12-2001) menulis, di masa itu seliter beras berharga 2 sen atau satu gobang (2,5 sen), sehingga 1 gulden (100 sen) bisa mendapat 40 liter beras. Sedang dalam cerita Kwee Tek Hoay ditulis, sebuah keluarga sederhana tanpa anak bisa hidup dengan f 80 perbulan dan sewa rumah kecil di gang sebesar f 15 sebulan.
Iklan displai terbanyak adalah susu, mulai dari Viking produksi Nestle Milk CO, lalu Friesche Vlag, Milk Maid, Glaxo, Bear Brand, Ovomaltine Alpine, Lactogen, lalu disusul iklan makanan ringan.
(Hendry ch Bangun)
Dengan bergairahnya ekonomi maka penjualan barang-barang kebutuhan pokokpun meningkat. Barang-barang kebutuhan sekunder mulai ramai diperdagangkan. Dari advertensi yang dimuat di surat kabar terbitan Medan, Jakarta, Semarang, dan Surabaya tercermin bagaimana upaya produsen memikat hati konsumen. Barang-barang impor mulai membanjiri pasar Hindia-Belanda.
Majalah De Huisvrouw in Indie, yang terbit di Medan, setiap bulan membuat daftar harga barang kebutuhan rumah tangga seperti sabun, mentega, makanan kaleng, sirup, pastagigi, dan teh. Dari sisi harga, tampaknya terjadi inflasi yang tingkatnya bervariasi pada barang eks luar negeri seperti tampak dari beda harga enam bulan. Meski ternyata ada juga harga barang yang harganya turun. Beberapa merek masa itu masih kita dapati produknya sekarang.
Pada desember 1933, harga sabun Sunlight sebesar f 0,28 (juni 1934 tetap f 0,28), Rinso f 0,19 (f 0,20) sabun mandi Lux f 0,25 (0,30), mentega Wijsman 2,5 kg f 3,25 (f 3), Delicia 5 lbs f 1,50 (f 1,65), margarine Blue Band 5 lbs f 1 (f 1,50), ikan kaleng sarden Peneau f 0,45 (f 45), kornet Delima f 0,25 (f 0,25), kornet Bovril f 0,25 (f 0,30), sirup Lauw Tjin f 0,30 (f 0,30), fruit salad Del Monte f 0,75 (f 0,65).
Alwi Sahab dalam Djakarta Tempo Doeloe (2-12-2001) menulis, di masa itu seliter beras berharga 2 sen atau satu gobang (2,5 sen), sehingga 1 gulden (100 sen) bisa mendapat 40 liter beras. Sedang dalam cerita Kwee Tek Hoay ditulis, sebuah keluarga sederhana tanpa anak bisa hidup dengan f 80 perbulan dan sewa rumah kecil di gang sebesar f 15 sebulan.
Iklan displai terbanyak adalah susu, mulai dari Viking produksi Nestle Milk CO, lalu Friesche Vlag, Milk Maid, Glaxo, Bear Brand, Ovomaltine Alpine, Lactogen, lalu disusul iklan makanan ringan.
(Hendry ch Bangun)
Langganan:
Postingan (Atom)