"KOMUNITAS PECINTA SEJARAH KOTA TUA"

Rabu, 29 Mei 2013

PROYEK BERJUTA LAMPU JEPANG


  Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, semua serba dibatasi. Bukan hanya bahan pangan seperti beras, tepung terigu, gula, dan garam, melainkan juga bahan pakaian. Yang lebih parah lagi, pemakaian lampu ( listrik) sebagai penerangan di rumah-rumah penduduk juga dibatasi.

  Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaanya, sikap Jepang berubah 180 derajat. Sadar akan kekalahanya dari Amerika Serikat, dan untuk kembali menarik hati rakyat Indonesia, dicabutlah berbagai pembatasan itu, termasuk pembatasan penerangan lampu.

  Malah kemudian, karena menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri, Jepang berjanji akan membagikan berjuta-juta bola lampu pada masyrakat. Berita ini diumumkan dalam suratkabar Asia Raya: “Berhubung dengan dihapuskanya pembatasan penerangan lampu, mulai tanggal 21 Agustus diumumkan penghapusan pembatasan penerangan lampu di seluruh Jawa.

  Berhubung dengan itu, pihak yang bersangkutan telah mengambil tindakan untuk membagi-bagikan berjuta-juta bola lampu kepada umat Islam bagi keperluan lebaran. Pembagian akan melalui Tonori Kumi.

  Juga kepada bangsa Nipon pembagian semacam itu akan dilakukan dengan syarat permintaan mereka sendiri-sendiri kepada Djawa Denki Zigyoo Sya. Disamping itu, tindakan untuk penerangan jalan-jalan raya di kota-kota besar, pun sudah dimulai.

  Dengan tindakan ini, terdapatlah kerjasama antara Bangsa Nipon dengan Indonesia untuk mengatasi segala kesukaran dan penderitaan (Asia Raya, 23 Agustus 1945)".

(Lily Utami, pengamat sejarah dan kebudayaan)    

Minggu, 13 Mei 2012

Oud Bataviaasche Museum

Lebih dari 100 tahun Batavia hanya memiliki sebuah museum. Barulah pada tahun 1937 dipersiapkan sebuah museum baru. Ini atas prakarsa Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW). Oud Bataviaasche Museum (OBM), demikian namanya, menempati bangunan di Jalan Pintu Besar Utara No. 27, Jakarta Kota. Semula gedung itu merupakan sebuah gereja “de Oude Hollandsche Kerk” dibanguan tahun 1640. tahun 1732 gedung itu hancur terkena gempa. Setelah dibangun kembali, namanya diganti menjadi “Niew Hollandsche Kerk”. Pada tahun 1936 BGKW membeli gedung ini dan dinyatakan sebagai monumen (caagar budaya).

 Ketika itu sebagai acuan adalah Monumenten Ordonnantie (Undang-undang Kepurbakalaan) 1931. Pada tahun 1937 Yayasan Oud Batavia mengajukan rencana untuk mendirikan sebuah museum mengenai sejarah kota Batavia. Diharapkan koleksi tersebut akan menggambarkan sejarah kota Batavia sejak zaman prasejarah hingga modern (ketika itu), termasuk menggambarkan kehidupan masyarakat Betawi beserta pertemuan kebudayaan dengan bangsa-bangsa asing.

Museum dibuka untuk umum pada 22 Desember 1939. pengelolaanya dilakukan oleh Yayasan Oud Batavia (Sejarah Permuseuman di Indonesia, 2011). Pada tahun 1957 nama OBM berubah menjadi Museum Djakarta Lama dibawah naungan Lembaga Kebudayaan Indonesia, nama baru BGKW. Pada 17 September 1962 lembaga ini diserahkan kepada departemen Pendidikan, Pengadjaran, dan Kebudajaan dan pada 23 Juni 1968 gedung ini diserahkan kepada pemerintah DKI Jakarta. Pada 30 Maret 1974 nama museum berubah menjadi Museum Sejarah Jakarta. Karena tempat terlalu kecil, sementara banyak koleksi besar milik Museum van Het BGKW dihibahkan kesini, maka museum juga menempati gedung lain bekas Balai Kota atau Stadhuis.

Koleksi-koleksi yang diangkuti dari Museum van Het BGKW antara lain mebel dan lukisan. Selanjutnya gedung bekas gereja menjadi Museum Wayang, sementara gedung tambahan menjadi Museum Sejarah Jakarta yang populer dengan nama Museum Fatahilla sekarang . (Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Mbah Dukun Zama Belanda

Kehadiran orang Belanda ke Indonesia yang semula hanya untuk berdagang lalu menjadi penguasa, sangat mempengaruhi kebudayaan serta gaya hidup orang Indonesia. Salah satunya adalah tumbuhnya budaya Indis. Suburnya budaya ini, pada awalnya di dukung oleh kebiasaan hidup membujang para pejabat Belanda ( karena saat itu ada larangan membawa isteri dan mendatangkan perempuan ke Hindia Belanda ).

 Hal ini mendorong para lelaki Belanda menikahi penduduk setempat. Maka, terjadilah percampuran darah yang melahirkan anak-anak campuran serta menumbuhkan budaya dan gaya hidup Belanda Pribumi. Yang disebut budaya Indis ( Djoko Soekiman, 2011 ). Termasuk dalam budaya ini adalah kebiasaan-kebiasaan yang khas Indonesia namun dilakukan oleh orang asing ( Belanda ), seperti : sering mandi, mengunyah sirih, berjudi kartu Cina, mengkonsumsi jamu, percayac guna-guna juga berkonsultasi dengan dukun ( Susan Blackburn, 2011 ).

 Seperti kejadian menarik yang terjadi di Batavia pada akhir awal abad 20 lalu. Ketika isteri seorang pegawai dari Volkslectuur kehilangan perhiasan yang disimpan di dalam koper yang tidak terkunci. Perempuan itu menghubungi dukun untuk menemukan perhiasan yang hilang. Namun petunjuk dari dukun tidak menghasilkan. Perhiasan tetap tidak dapat ditemukan. Ternyata, meskipun pemerintah Hindia Belanda berusaha dengan keras untuk menghilangkan Budaya Indis, karena dianggap sebagai gaya hidup yang terlalu pribumi, nyatanya kebudayaan ini tidak serta merta langsung menghilang dalam kehidupan masyarakat Batavia.

 ( Lily Utami, pemerhati kebudayaan dan sejarah )

Minggu, 01 April 2012

Pengaruh Budaya Tionghoa di Betawi

Pada abad ke-16 dan ke-17 terjadi eksodus besar-besaran orang Tionghoa ke bagian selatan Cina, yaitu ke wilayah Asia Tenggara, termasuk nusantara. Kejadian itu disebabkan karena adanya perang saudara dan kemarau berkepanjangan disana.

Pada saat bersama VOC berkuasa di Batavia. Untuk memperlancar pembangunan, mereka memerlukan banyak tenaga kerja. Karena itu mereka mengambil tenaga kerja asal Cina yang dinilai ulet dan rajin.
Sejak itu kebudayaan Cina banyak bercampur dengan kebudayaan Betawi dan masuk ke dalam berbagai aspek kehidupan. Misalnya bahasa, nama tempat, arsitektur, kesenian dan kuliner. Bisa dimaklumi kalau Batavia menjadi kota yang multietnis, Selain sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda, kota Batavia awalnya berada disekitar pelabuhan Sunda Kelapa. Banyak orang dari berbagai suku dan ras datang untuk berdagang, termasuk orang-orang dari daratan cina.

Dalam kosa kata setiap hari banyak istilah Cina yang sudah dianggap punya orang Betawi. Sebut saja cepek (seratus), engkong (kakek), gua (saya), lu (kamu), cabo (pelacur), sekoteng (minuman sejenis wedang jahe), centeng (penjaga malam), toko (tempat bertransaksi), cincau ( minuman ringan dari sari daun), bakiak (sandal dari kayu). Sejak lama rupanya orang-orang Betawi dan Cina sudah bersosialisasi, baik sebagai sahabat, relasi bisnis maupaun hubungan pembantu-majikan.

Busana tradisional Betawi juga berakulturasi dengan busana Cina. Baju koko atau tikim berasal dari dialek Tionghoa, tuikim. begitu pula dengan kebaya encim, dalam dialek Hokkian encim adalah tante. Aksesori sanggul seringkali berujud burung hong, yaitu merupakan hewan mitologi dalam kebudayaan cina.
Bidanglain yang mendapat pengaruh budaya cina adalah kesenian, terlihat jelas pada gambang kromong, cokek dan lenong. Petasan dan kembang api yang tadinya dibakar menjelang Tahun Baru Imlek, menjadi pelengkap setiap hajatan masyarakat Betawi.

Di bidang arsitektur, pengaruh Tionghoa juga cukup kuat. Bagian depan rumah betawi diberi hiasan pembatas berupa langkan. Lalu agar tampak indah dan tidak kusam, pintu dan jendela hasrus dicat. Istilah ubin, lonceng, pangkeng (kamar tidur), kongkow, teh kuaci, tapang (bermakna balai-balai), langseng, anglo, topo, kemoceng, dan pengki juga berasal dari dialek Hokkian.

Di bidang kuliner ada kecap, mi, bihun, tahu, toge, tauco, kucai, lokio, juhi, ebi, dan tepung hunkue. Inilah bukti sejarah yang tidak akan hilang oleh waktu.

(Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Iklan Kebutuhan Rumah Tangga

sekitar tahun 1934-1935, setelah malaise melanda dunia berakhir, perekonomian di Hindia-Belanda mulai bangkit lagi. Arus perdagangan hasil bumi, baik berupa hasil perkebunan maupun hasil pertambangan, keluar negeri secara perlahan-lahan membuat kondisi perekonomian membaik. Perkebunan dan perusahaan sudah mulai merekrut pekerja lagi, setelah sebelumnya terjadi PHK besar-besaran, baik disektor jasa maupun yang padat karya, seperti perkebunan.

Dengan bergairahnya ekonomi maka penjualan barang-barang kebutuhan pokokpun meningkat. Barang-barang kebutuhan sekunder mulai ramai diperdagangkan. Dari advertensi yang dimuat di surat kabar terbitan Medan, Jakarta, Semarang, dan Surabaya tercermin bagaimana upaya produsen memikat hati konsumen. Barang-barang impor mulai membanjiri pasar Hindia-Belanda.

Majalah De Huisvrouw in Indie, yang terbit di Medan, setiap bulan membuat daftar harga barang kebutuhan rumah tangga seperti sabun, mentega, makanan kaleng, sirup, pastagigi, dan teh. Dari sisi harga, tampaknya terjadi inflasi yang tingkatnya bervariasi pada barang eks luar negeri seperti tampak dari beda harga enam bulan. Meski ternyata ada juga harga barang yang harganya turun. Beberapa merek masa itu masih kita dapati produknya sekarang.

Pada desember 1933, harga sabun Sunlight sebesar f 0,28 (juni 1934 tetap f 0,28), Rinso f 0,19 (f 0,20) sabun mandi Lux f 0,25 (0,30), mentega Wijsman 2,5 kg f 3,25 (f 3), Delicia 5 lbs f 1,50 (f 1,65), margarine Blue Band 5 lbs f 1 (f 1,50), ikan kaleng sarden Peneau f 0,45 (f 45), kornet Delima f 0,25 (f 0,25), kornet Bovril f 0,25 (f 0,30), sirup Lauw Tjin f 0,30 (f 0,30), fruit salad Del Monte f 0,75 (f 0,65).
Alwi Sahab dalam Djakarta Tempo Doeloe (2-12-2001) menulis, di masa itu seliter beras berharga 2 sen atau satu gobang (2,5 sen), sehingga 1 gulden (100 sen) bisa mendapat 40 liter beras. Sedang dalam cerita Kwee Tek Hoay ditulis, sebuah keluarga sederhana tanpa anak bisa hidup dengan f 80 perbulan dan sewa rumah kecil di gang sebesar f 15 sebulan.

Iklan displai terbanyak adalah susu, mulai dari Viking produksi Nestle Milk CO, lalu Friesche Vlag, Milk Maid, Glaxo, Bear Brand, Ovomaltine Alpine, Lactogen, lalu disusul iklan makanan ringan.

(Hendry ch Bangun)

Proyek Berjuta Lampu Jepang

Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, semua serba dibatasi. Bukan hanya bahan pangan seperti beras, tepung terigu, gula, garam, melainkan juga bahan pakaian.

Yang lebih parah lagi, pemakaian lampu (listrik) sebagai penerangan di rumah-rumahpenduduk juga dibatasi.
Ketika Indonesia memproklamirkan kemerdekaanya, sikap Jepang berubah 180 derajat! Sadar akan kekalahannya dari Amerika Serikat, dan untuk kembali menarik hati rakyat Indonesia, dicabutlah berbagai pembatasan itu, termasuk pembatasan penerangan lampu.

Malah kemudian, karena menjelang Hari Raya Idul Fitri, Jepang berjanji akan membagikan berjuta-juta bola lampu pada masyarakat. Berita ini di umumkan dalam suratkabar Asia Raya:
“berhubung dengan dihapusnya pembatasan penerangan lampu, mulai 21 Agustus di umumkan penghapusan pembatasan penerangan lampu diseluruh Jawa.

Berhubung dengan itu, pihak yang bersangkutan telah mengambil tindakan untuk membagi-bagikan berjuta-juta bola lampu kepada umat Islam bagi keperluan lebaran. Pembagian akan melalui Tonori Kumi. Juga kepada bangsa Nipon pembagian semacam itu akan dilakukan dengan syarat permintaan mereka sendiri-sendiri kepada Djawa Zigyoo Sya. Disamping itu, tindakan untuk penerangan jalan-jalan raya di kota-kota besar, pun sudah dimulai. Dengan tindakan ini, terdapatlah kerjasama antara bangsa Nipon dan Indonesia untuk mengatasi segala kesukaran dan penderitaan (Asia Raya, 23 Agustus 1945)”

(LILY Utami, pengamat sejarah dan kebudayaan)

Penduduk Batavia Abad Ke-18

Sebelum VOC membangun kota Batavia, kota Jayakarta masih sedikit penduduknya. Namun sejak diambil alih oleh VOC, pembangunan giat dilaksanakan, terutama disekitar pesisir atau pelabuhan. Akibatnya pada abad ke-18 Batavia menjadi salah satu kota paling ramai dan sibuk di dunia.

Memang tidak ada data resmi dan akurat mengenai jumlah penduduk Batavia pada abad ke-18 itu. Hanya diperkirakan 30.000 jiwa, atau 100.000 jiwa sebagaimana laporan Valentijn. Mereka bertempat tinggal di dalam dan di luar benteng. Ditinjau dari komposisi penduduk, mereka terdiri dari berbagai bangsa dan suku bangsa. Selama periode colonial ini, ras dan agama merupakan dasar terpenting dalam pelapisan sosial, alokasi pekerjaan, dan kesempatan lainya.

Milone (1975) mengelompokan penduduk Batavia menjadi lima golongan. Pertama, orang-orang Eropa termasuk para pejabat VOC. Kedua, warga kota merdeka, terdiri atas Vrijburger, Eurasian, Mardijker, Papanger, orang Jepang, orang Indonesia Kristen, dan beberapa orang Afrika. Ketiga, orang Cina Arab dan India. Keempat, orang Melayu, kelima, orang Indonesia non-kristen.

Yang dimaksud dengan orang Eropa adalah orang-orang Eropa yang dilahirkan di Eropa dan diluar Eropa yang menetap di Batavia. Umumnya orang-orang Eropa yang dilahirkan di luar Eropa tidak menduduki posisi tinggi dalam struktur VOC disbanding orang-orang Eropa yang dilahirkan di Eropa. Termasuk dalam golongan ini adalah orang-orang Belanda, Inggris, Perancis, Jerman, dan Portugis.

Istilah Vrijburger (warga merdeka) mengacu pada sekelompok masyarakat Eropa yang tidak bekerja pada VOC namun terikat oleh peraturan-peraturan tentang pertahana militer. Eurasian sering disebut Mestizo dan populer dengan istilah indo. Istilah ini dipergunakan untuk menyebut kelompok masyarakat yang dilahirkan oleh ibu Asia dan ayah Eropa. Namun dalam sejumlah kepustakaan, kedua istilah sering dibedakan. Mestizo untuk menyebut peranakan dari ayah Eropa sementara Eurasian atau indo adalah peranakan dari ayah Belanda.

Ditinjau dari kebangsaan, setelah Eropa yang menduduki status sosial dibawahnya adalah orang Timur asing. di antara orang-orang Timur asing, orang Cina terbanyak jumlahnya. Di Batavia mereka adalah golongan terpenting setelah bangsa Belanda karena memberikan kontribusi besar di bidang perekonomian mencapai 2.518 orang (di dalam benteng) dan 24.157 (di luar benteng).

(Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Foto Terlarang Hindia Belanda

Selasa, 8 Desember 2009 di Belanda diterbitkan buku yang berisikan foto-foto terlarang yang dibuat di Hindia-Belanda antara tahun 1945 hingga tahun 1949. buku itu berjudul Koloniale Oorlog: 1945-1949
( Perang Kolonial 1945-1949) karya Rene Kok, Erik Somers, dan Louis Zweers. Hamper 200 foto menghiasi buku tersebut. Foto-foto itu pernah disensor oleh pemerintahan Batavia karena mereka hanya mau memberikan gambaran yang positif tentang perang. Foto tentara yang terluka tembakan, penduduk yang ditangkap dan diancam laras senapan dulu tidak pernah muncul di media Belanda.

Ketiga penulis, sebagaimana diberitakan Radio Nederland Siaran Indonesia (Ranesi), menyelidiki arsip-arsip foto di periode dekolonialisasi Hindia-Belanda antara 1945 hingga 1949. ketika itu banyak wartawan yang dipakai oleh pemerintah kolonial untuk membuat foto-foto perang. Para wartawan ini diwajibkan menyerahkan semua foto yang dibuat kepada pemerintah Batavia untuk diseleksi. Foto-foto yang lolos seleksi boleh dikirim ke media di Belanda.

Banyak foto tidak terseleksi karena dianggap mengandung “unsur-unsur yang mengagetkan”. Hal ini dipandang bisa meresahkan sanak keluarga serta penduduk Belanda. Foto serdadu yang terluka atau tawanan perang, musalnya, tidak pernah ditampilkan di media.

Sebenarnya periode setelah 17 Agustus 1945 dan 1949, dikenal dengan periode Bersiap. Setelah itu dimulai aksi agresi I dan II oleh Belanda, dan berakhir dengan pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada 27 Desember 1949. Istilah Belanda ‘Politionele Actie’ sengaja tidak digunakan oleh ketiga penulis, menurut mereka istilah ini digunakan pemerintah Belanda untuk membenarkan aksi di Indonesia, yaitu mengembalikan ketenangan dan pemerintahan di Hindia-Belanda, sekaligus digunakan untuk menutup-nutupi apa yang terjadi ketika itu.

Setelah menyelidiki ratusan foto yang ditemukan, ketiganya menyimpulkan bahwa sejak hari pertama pasukan Belanda datang ke Indonesia, dimulailah periode perang, dalam hal ini perang kolonial. Banyak reaksi diterima ketiga penulis, terutama dari kalangan veteran KNIL di Belanda. Dan juga dari anak-anak mereka, generasi kedua setelah perang. Meskipun banyak sisi negatife dari perang diceritakan buku ini, namun inilah sejarah yang sesungguhnya.

(Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Jumat, 02 Maret 2012

Iklan Kebutuhan Rumah Tangga

Sekitar tahun 1934-1935, setelah malaise melanda dunia berakhir, perekonomian di Hindia-Belanda mulai bangkit lagi. Arus perdagangan hasil bumi, baik berupa hasil perkebunan maupun hasil pertambangan, keluar negeri secara perlahan-lahan membuat kondisi perekonomian membaik. Perkebunan dan perusahaan sudah mulai merekrut pekerja lagi, setelah sebelumnya terjadi PHK besar-besaran, baik disektor jasa maupun yang padat karya, seperti perkebunan.

Dengan bergairahnya ekonomi maka penjualan barang-barang kebutuhan pokokpun meningkat. Barang-barang kebutuhan sekunder mulai ramai diperdagangkan. Dari advertensi yang dimuat di surat kabar terbitan Medan, Jakarta, Semarang, dan Surabaya tercermin bagaimana upaya produsen memikat hati konsumen. Barang-barang impor mulai membanjiri pasar Hindia-Belanda.

Majalah De Huisvrouw in Indie, yang terbit di Medan, setiap bulan membuat daftar harga barang kebutuhan rumah tangga seperti sabun, mentega, makanan kaleng, sirup, pastagigi, dan teh. Dari sisi harga, tampaknya terjadi inflasi yang tingkatnya bervariasi pada barang eks luar negeri seperti tampak dari beda harga enam bulan. Meski ternyata ada juga harga barang yang harganya turun. Beberapa merek masa itu masih kita dapati produknya sekarang.

Pada desember 1933, harga sabun Sunlight sebesar f 0,28 (juni 1934 tetap f 0,28), Rinso f 0,19 (f 0,20) sabun mandi Lux f 0,25 (0,30), mentega Wijsman 2,5 kg f 3,25 (f 3), Delicia 5 lbs f 1,50 (f 1,65), margarine Blue Band 5 lbs f 1 (f 1,50), ikan kaleng sarden Peneau f 0,45 (f 45), kornet Delima f 0,25 (f 0,25), kornet Bovril f 0,25 (f 0,30), sirup Lauw Tjin f 0,30 (f 0,30), fruit salad Del Monte f 0,75 (f 0,65).
Alwi Sahab dalam Djakarta Tempo Doeloe (2-12-2001) menulis, di masa itu seliter beras berharga 2 sen atau satu gobang (2,5 sen), sehingga 1 gulden (100 sen) bisa mendapat 40 liter beras. Sedang dalam cerita Kwee Tek Hoay ditulis, sebuah keluarga sederhana tanpa anak bisa hidup dengan f 80 perbulan dan sewa rumah kecil di gang sebesar f 15 sebulan.

Iklan displai terbanyak adalah susu, mulai dari Viking produksi Nestle Milk CO, lalu Friesche Vlag, Milk Maid, Glaxo, Bear Brand, Ovomaltine Alpine, Lactogen, lalu disusul iklan makanan ringan.

(Hendry ch Bangun)

Selasa, 10 Januari 2012

Selintas Gedung Harmoni


Pada saat Gedung Harmonie, lengkapnya Societeit de Harmonie, merupakan gedung bergengsi, tidak sembarangan orang boleh datang ke tempat ini. Gedung Harmonie atau Harmonie Club yang dulu pernah berdiri di wilayah Hrmoni sekarang, merupakan tempat berkumpul masyarakat Hindia Belanda di Batavia. Pelopor pendirian gedung adalah Reinier de Klerk pada tahun 1776. masud pendirian agar gaya hidup orang-orang Belanda tidak terlalu urakan. Sebelum ada gedung ini, di sepanjang Kali Ciliwung banyak berdiri kedai minuman.
Awalnya, banyak orang mengajukan keberatan atas gagasan Klerk. Namun akhirnya tempat yang diinginkan terlaksana di Jalan Pintu Besar Selatan sekaran. Pada saat pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels tahun 1808 , gedung itu dianggap jorok, maka kemudian Daendels memindahkan gedung itu ke pinggir kota sehingga bisa menghirup udara yang lebih segar. Pembangunan gedung baru menghabiskan dana besar yang sebagian disokong oleh Balai Harta Peninggalan dan Daendels memerintahkan semua pegawai negeri, militer, sipil, harus menjadi anggota Societeit untuk mengumpulkan dana.
Ketika Daendels kembali ke belanda pada tahun 1811, pembangunan gedung agak tersendat. Begitu pula sewaktu jabatan Gubernur Jenderal dipegang penggantinya. Janssens. Gubernur Jenderal Inggris Raffles-lah yang kemudian memberikan perhatian kepada kelanjutan pembangunan gedung. Bahkan Raffles membuka secara resmi pada 18 Januari 1815.
Gedung Hrmonie begitu mentereng, megah, dan kokoh, serta ditandai tulisan di bagian tengah “ HARMONIE “. Di dalam gedung juga terdapat sejumlah meja billiard. Gedung Hrmonie secara sinis sering disebut Jenewerpaleis atau Gin Palace ( Istana Jenewer ).

Banyak pesta makan dan pesta dansa diselenggarakan disini. Suasana teramai adalah saat makan tengah malam sambil minum anggur dibawah sinar rembulan di teras yang ditanami bunga-bunga. Konser musik dan pasar malam pernah beberapa kali digelar. Pesta paling meriah berlangsung 18 Januari 1940 untuk menyambut ulang tahun ke-125 perkumpulan tersebut. Pesta peringatan 250 tahun kota Batavia pada 29 Mei 1869 juga digelar disana.

Selepas kemerdekaan RI, gedung itu semakin merana. Tahun 1970-an hingga 1980-an Gedung Harmonie dipakai sebagai kantor Gabungan Importir Nasional Indonesia. Lalu, gedung tersebut dibongkar pada Maret tahun 1985. selanjutnya lahanya digunakan untuk perluasan areal parkir Kantor Sekertariat Negara dan pelebaran jalan disampingnya.

( Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya )

Gembok Penangkal Selingkuh


Dua buah koleksi museum nasional yang belum banyak diketahui orang adalah cupeng dan badong. Kedua koleksi itu berkenaan dengan kaum wanita dan terdapat di Ruangan Khasanah.
Cupeng adalah semacam celana bergembok atau berkunci. Istilah ini dikenal di Aceh. Pada awalnya cupeng merupakan benda upacara yang dipakai anak wanita kecil. Dan berfungsi sebagai penutup kelamin, dan berfungsi sebagai penutup kelamin. Bentuknya seperti hati dan pemasangannya diikat dengan benang pada perut si anak. Salah satu artefak yang terkenal berbahan emas 22 karat, berukuran tinggi 6,5cm dan lebar 5,8cm.
Kemungkinan cupeng emas itu digunakan oleh orang terpandang. Artefak tersebut penuh ukiran, pinggiranya berhiaskan motif tapak jala, bagian tengah bermotif bunga teratai dikelilingi deretan bunga bertajuk empat helai dalam bentuk belah ketupat. Bagian bunga tadi bermatakan jakut merah.
Menurut tradisi lama, cupeng harus dipakai oleh anak wanita yang berusia dua hingga lima tahun. Atau digunakan ketika anak mulai berjalan sampai anak pandai menggunakan sarung sendiri. Mereka percaya, cupeng merupakan penangkal roh jahat.
Hampir serupa dengan cupeng adalah badong. Badong merupakan perhiasan untuk wanita bangsawan atau tokoh yang dihormati. Penggunaanya diletakan diluar kain, tepat di depan. Badong adalah simbol bagi wanita yang sudah menikah dan dipakai pada saat suami mereka sedang berperang atau sedang berada diluar rumah. Badong juga dipakai oleh para petapa atau pendeta wanita. Maskudnya untuk melawan godaan agar selamanya tidak melakukan hubungan intim dengan lawan jenis.
Badong berbahan emas ini ditemukan di daerah Madiun, kemungkinan berasal dari masa Kerajaan Majapahit sekitar abad ke 14/15. yang unik, permukaan badong dihiasi relif cerita si tanjung, seorang wanita suci yang dituduh berselingkuh oleh suaminya, sidapaksa dan kemudian dibunuh. Namun suatu saat Dewi Durga datang menolong Sri Tanjung dengan memberikan seekor Gajamina ( ikan gajah ) untuk menyebrangi sungai dunia bawah menuju surga sebagai imbalan atas kesucian dirinya.
Supeng dan badong adalah peninggalan masa lalu, selain sebagai benda budaya, juga menunjukan bahwa kaum wanita sudah mendapat perhatian khusus sejak lama.

( Djulianto Susantio )

Lnong dari Kata Lay dan Nong

Lenong merupakan teater tradisional Betawi yang diperkirakan mulai muncul pada akhir abad ke-19. Lakon dalam pertunjukan lenong biasanya diambil dalam kisah kehidupan sehari – hari yang berisikan pesan – pesan moral. Dalam berdialog, pemain lenong menggunakan bahasa Indonesia dialek Betawi yang sesekali ditingkahi dengan musik gambang kromong.
Menurut Ninuk Kleden, sampai saat ini terdapat dua versi tentang asal - usul lenong yang sebenarnya masih berhubungan. Versi pertama mengatakan, teater lenong mempunyai hubungan yang erat dengan bentuk teater di Tiongkok menurut versi kedua, lenong memperlihatkan keterkaitanya dengan parsi.

Pada awalnya lenong dibawakan oleh sekumpulan warga keturunan China di daerah Tangerang. Menurut cerita, pertunjukan ini dipimpin oleh Tuan Lay. Primadona kesenian ini adalah anak Tuan Lay yang biasa dipanggil si Nong. Dari paduan dua nama Lay dan Nong inilah muncuk kata lenong.

Ciri khas kesenian lenong adalah monolog dan dialog yang dilakukan para pemainya. Meskipun sudah di dasarkan pada skenario yang disusun, namun para pemain tetap bebas melakukan inprovisasi. Monolog diucapkan pada permulaan adegan, bertujuan untuk memperkenalkan tokoh yang akan diperankan beserta situasi lingkunganya. Sementara dialog terbagi atas dua jenis, yakni yang berhubungan dengan cerita dan yang terlepas dari cerita itu.
Termasuk dalam dialog adalah lawakan yang menurut istilah Betawi disebut bodoran. Bisa dikatakan bodoran mendominasi sebagian besar dialog. Bahkan adegan sedih sering diucapkan dengan bodoran itu. Kedudukan tokoh bodor tidak jauh berbeda dengan kedudukan tokoh panakawan pada epos Mahabarata dalam pertunjukan wayang. Ciri khas lain dari kesenian lenong adalah adanya bentuk tari dan silat. Tari diiringi oleh orkes melayu dan dikenal dengan istilah joget. Dilakukan diluar panggung dengan melibatkan penonton. Sementara tari silat diiringi musik gambang kromong di atas panggung, biasanya dilakukan seorang diri oleh tokoh pembawa peran.

Beberapa tokoh bodor yang dikenal antara lain Anen, Nasir, Nirin, Bodong, Bolot, dan Nori. Pada masa jaya, acara lenong selalu ditunggu – tunggu pemirsa TVRI. Namun setelah munculnya grup – grup lawak, kesenian lenong tersisihkan. Memang pernah ada kelompok yang mencoba menghidupkan kembali dengan kemasan lebih moderen. Pada salah satu stasiun televise swasta, misalnya, secara periodik detayangkan acara Lenong Rumpi yang bertahan beberapa tahun saja.

(Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Selasa, 04 Oktober 2011

Pembantaian di Batavia Tahun 1740





Kejatuhan industri gula mempengaruhi suplai dunia, dan pasar Eropa turut berperan dalam peristiwa pembantaian kaum Tionghoa di Batavia tahun 1740.
Imigran Tionghoa menjadi buruh industri gula mengakibatkan kelebihan sumber daya manusia dan banyak buruh yang tidak mendapat pekerjaan di tahun 1730. VOC merespon dengan serangkaian penahanan dan deportasi imigran Tionghoa serta memperketat peraturan.
VOC juga memberlakukan regulasi terhadap migrasi Tionghoa ke Batavia dengan mengimplementasi sistem ijin huni di tahun 1690. sistem ini mensyaratkan seluruh Tionghoa di Batavia untuk membawa bukti administrasi, jika tidak akan terkena risiko penahanan.
Hukuman dan pengusiran terhadap penduduk ilegal Tionghoa menjadi praktik umum. VOC seringkali mendeportasi mereka kembali ke tanah airnya atau memindahkanya ke Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Sistem ini juga sebaiknya diterapkan untuk orang pribumi tetapi tidak pernah dilaksanakan.
Kenaikan jumlah penahanan imigran Tionghoa di bawah sitem baru, dan kombinasi dengan praktik korupsi dan pungli yang memeras Tionghoa untuk menerbitkan izin tinggal membuat rumor semakin kencang di daerah lain. Rumor lain menyebutkan bahwa seluruh Tionghoa akan dibuang ke Cylon (Srilanka). VOC mengeluarkan resolusi di tanggal 25 Juli 1740, memerintahkan semua Tionghoa yang dicurigai, baik yang memiliki izin tinggal atau tidak untuk ditahan.
Karena VOC sudah membuang orang Tionghoa yang tidak terdaftar dan ditemukan tanpa izin di Batavia, dan juga mereka dihukum atas perbuatan kriminal, maka rumor yang beredar di kalangan buruh Tionghoa seolah menjadi kenyataan.
Buruh Tionghoa bereaksi dengan mempersenjatai diri dengan menyerang pabrik gula dan melampiaskan kemarahan mereka terhadap siapa saja yang bekerja sama dengan VOC. Mereka terus bergerak kemudian melanggar perbatasan tembok kota, dan berniat melakukan serangan umum.
Serangan itu tanpa harapan, dengan mudah dijinakan oleh Belanda yang memiliki keunggulan persenjataan. Tanggal 9-10 Oktober 1740 VOC dan kolaborator pribumi yang mengabdi pada VOC, melampiaskan dendam dengan menyerang pusat pemukiman dan pusat bisnis Tionghoa yang dihuni kurang lebih 7.000 Tionghoa. Estimasi korban pembunuhan paling sedikit 1.000 orang. Pemerintah memang tidak memerintahkan pembantaian secara resmi, tapi membiarkan aksi pembantaian itu terjadi. Di tahana kota, 500 orang Tionghoa juga digiring satu persatu dan ditembak mati. Selama seminggu kota penbuh dengan api dan kanal kota banjir dengan darah

( ito/berbagi sumber )

Nisan VOC di Batavia

Masa pemerintahan VOC di Batavia meninggalkan banyak warisan sejarah. Salah satu artefak yang cukup penting adalah batu nisan, yakni batu yang dibaringkan di atas makam. Batu-batu nisan masa VOC di Batavia ditemukan dalam jumlah banyak. Sebagian besar batu nisan kini disimpan di Museum Taman Prasasti. Sebagian kecil ada di Museum Wayang, Gereja Sion, dan Pulau Onrust.
Umumnya batu nisan tersebut berbentuk persegi empat dan terbuat dari batu yang keras. Panjangnya sekitar dua meter, dengan lebar sekitar satu meter. Batu nisan ini dipahat dalam berbagai bentuk lambing heraldik dan bentuk inskripsi. Di Batavia batu nisan merupakan pelengkap makam Kristen.
Dulu system makam VOC adalah system kelder atau ruang bawah tanah. Dalam satu makam bisa berisi lebih dari satu jenazah yang tahun meninggalnya berlainan. Pesan-pesan pada batu nisan dibuat dalam bentuk verbal (inskripsi), ada juga dalam bentuk non-verbal (ikonis). Keduanya merupakan ekspresi latar belakang bduaya komunitas pengguna pesan-pesan tersebut semasa mereka hidup.
Dari hasil penelitian Lilie Suratminto (Makna Sosiohistoris Batu Nisan VOC di Batavia, 2008), disimpulkan bentuk dan jenis batu nisan sangat tergantung dari jabatan yang pernah dipegang seseorang. Batu-batu nisan para pejabat penting umunya dari batu yang kualitasnya lebih bagus. Sementara batu nisan dari pejabat-pejabat rendah dari batu biasa.
Nisan paling tua adalah milik Maria Caen (tahun 1640), kini tersimpan di Museum Wayang. Sebenarnya ada yang lebih tua, tetapi tinggal sepotong. Artefak itu ditemukan pada penggalian tahun 19038 oleh Dinas Purbakala Hindia-Belanda pimpinan WF Stutterheim dalam rangka mencari makam JP Coen. Nisan itu atas nama Francoisa.
Bahasa dalam inskripsi sebagian besar bahasa Belanda yang berasal dari abad ke-17 atau ke-18. Ciri utamanya adalah belum memiliki keseragaman ejaan., misalnya kata coopman (saudagar) kadang ditulis kopman atau gebooren (dilahirkan) ditulis gheboren. Selain itu banyak kosa kata yang lazim pada masa VOC tidak dipergunakan lagi dalam bahasa Belanda modern.
Menurut Lilie, berdasarkan status sosial orang yang di makamkan, nisan VOC terbagi atas 9 kelompok, yakni Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Gubernur dan Direktur Jenderal Hindia Belanda, anggota Dewan Hindia Belanda, anggota Dewan Kota anggota Dewan Gereja, saudagar/syahbandar/perizinan, angkatan perang/keamanan/peralatan, pribumi, dan orang-orang yang tidak mempunyai jabatan.

(Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

JP Coen, Tokoh Kontroversial

Nama Jan Pieterszoon Coen populer dalam buku-buku sejarah sebagai pemimpin VOC pendiri kota Batavia. Dia lahir pada tahun 1587 dan wafat pada tahun 1629. namun dalam hidupnya yang relatif singkat itu (42 tahun), dia dikenal sebagai tokoh kontoversial yang bengis. Bahkan ada yang menyamakanya dengan penjahat perang masa kini.
Berbagai julukan disandang Coen, antara lain Ijzeren Jan, Jan Besi, dan Mur Jangkung. Beberapa hari sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, ia masih menyiksa anak asuhnya Sarah, yang ketahuan main serong dengan seorang pelaut. Sang pelaut pun dihukum mati.
Coen lahir di Hoorn, kota pelabuhan cantik di Belanda Utara. Kota ini sarat museum dan monumen. Salah satu monumen penting di Hoorn adalah patung Coen yang berdiri megah di alun-alun pusat kota. Dilihat dari segi artistik sebagaimana ditulis Radio Nederland Siaran Indonesia, patung itu indah. Namun bagi sementara kalangan, patung Coen dipandang sangat menggangu.
Alasanya, patung itu melambangkan penghormatan terhadap seorang pembantai terbesar dalam sejarah Belanda. Karena itu Eric van de Beek, pemerkasa Burgerinitiatief atau Prakarsa Warga, ingin agar patung itu dipindahkan dari alun-alun Hoorn ke museum.
Dimasa itu, jauh sebelum ada istilah genosida, Coen merupakan tokoh bertangan besi dan banyak mencabut nyawa orang. Kekejamanya yang paling besar adalah membinasaan penduduk Banda. Ketika itu mereka melawan monopoli VOC karena tidak mau menjual pala dengan harga murah.
Coen juga yang coba membuat Batavia seperti Hoorn, kota kelahiranya. Disini Coen dibangga-banggakan oleh pemertintah kolonial. Bahkan ketika itu gambarnya menghiasi uang gulden. Selain itu didirikan pulapatung Coen di Waterlooplein, sekarang Lapangan Banteng. Patung ini kemudian digusur oleh tentara pendudukan Jepang.
Dikota kelahiranya, patung Coen sudah diprotes sejak lama. Penyebabnya, Pemda menolak memindahkan patung yang diresmikan pada tahin 1893 itu. Namun baru beberapa tahun belakangan ini Pemda Kotapraja Hoorn bersedia mencari kompromi. Entah disengaja atau tidak disengaja, pada pertengahan tahun 2011 patung Coen terseruduk truk pembawa katrol. Akibatnya patung itu mengalami kerusakan berat dan harus diperbaiki.

(Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya)

Sabtu, 01 Oktober 2011

Nona Cantik di Trem Listrik

Di perpustakaan KITLV (Koninklijk Instituut Voor het Taal-Land-en Volkenkunde) di leiden ada sebuah buku berjudul Nederlands-indie (wa VAN Rees. Leiden: AW Sijthoff, 1881). Walaupun cerita buku ini sebetulnya fiksi, kehidupan di Batavia pada akhir abad ke-19 dituturkan dengan rinci.
Wa Rees mengawali ceritanya dengan menggambarkan perasaan Tuan Leeghancker ketika pertama kali naik trem listrik di kota Batavia. Di atas trem, lelaki Belanda itu tidak hanya melihat, tetapi terpaksa duduk berdekatan bahkan mencium bau tubuh para inlander.
Semua orang, apakah ia berkulit putih, kuning, ataupun sawo matang boleh naik dan duduk di kursi manapun. Trem itu ternyata bukan semata – mata angkutan umum saja. Trem Listrik Batavia menjadi ajang pertemuan antarbangsa. Pada waktu itu untuk naik trem dari Kota ke Kramat orang harus membayar sepuluh sen; sebanyak itu pula ongkos untuk pergi dari Kramat ke Mester Cornelius.
Trem itu berhenti, dua orang cina naik. Mereka tersenyum lebar. Dibalik topi, tampak kepala mereka yang hamper botak dicukur. Dari ubun – ubun mereka tergantung kepang panjang.
Lonceng tembaga kondektur trem berbunyi setiap ada penumpang naik. Pertama – tama naiklah seorang lelaki Arab yang berwiawa. Ia berjanggut tebal dengan sorban merah di kepalanya. Lonceng itu berbunyi lagi, seseorang berkulit gelap naik bersama seorang nona cantik. Seorang perempuan Jawa dan anaknya naik di halte berikutnya. Akhirnya, naikpula seorang pedagang Belanda berpakaian putih. Ia langsung duduk dan mulai membaca Koran.
Setiap kali seorang penumpang baru duduk di sebelahnya, Leeghancker pindah tempat duduk. Pertama – tama, ia pindah ke kursi lain untuk menghindari kedua lelaki Cina yang ribut itu; lalu ia pindah lagi supaya tidak tersentuh jubah lelaki Arab bersorban merah tadi. Ia juga tak ingin mencium bau minyak kayu putih ditubuh orang itu. Si perempuan Jawa tampak sopan, akan tetapi kulit perempuan itu tampak kotor dimatanya; sawo matang! Dan kakinya telanjang! Pasir dan kerikil kecil menempel di kaki itu.
Namun, seseorang di trem itu membuat matanya tak berkejap; si nona cantik. Sesekali ia bertemu pandang dengan mata si Nona.
(Frieda.amran@yahoo.com, anggota Asosiasi Antropologi Indonesia)

Trem Inovatif Pertama Belanda di Batavia


Pada tahun 1808, Daendels memulai pembangunan De Grote Postweg ( Jalan Raya Pos ) yang membentang dari Anyer di ujung barat Pulau Jawa sampai ke Panarukan di ujung timurnya. Seribu kilometer panjangnya. Bukan main banyaknya nyawa rakyat Indonesia yang dikorbankan demi pembangunan jalan itu. Jalan raya yang sedemikian panjang melewati gunung, dan lembah selesai dalam waktu satu tahun saja.
Setelah adanya Jalan Raya Pos, lalulintas di darat menajdi lebih mudah. Orang jadi lebih cepat dalam bepergian dengan kereta kuda, kursi usungan ataupun kuda, sepeda kemudian juga banyak digunakan. Kecepatan dan kenyamanan perjalanan semakin bertambah ketika kereta api dan mobil mulai digunakan di Hindia-Belanda. Perjalanan antar pulau di Nusantara dilakukan dengan kapal layar dan kapal api.
Dengan adanya kapal api, perjalanan dari Batavia ke negeri Belanda yang dulunya memerlukan waktu sekitar setengah tahun, menjadi lebih pendek: hanya enam minggu saja.
Di negeri Belanda, Trem pertama yang digunakan pada tahun 1864 ditarik oleh beberapa ekor kuda, walaupun trem kuda yang pertama sudah digunakan di New York pada tahun 1832. Angkutan penumpang ini munculm dari ide menggabungkan bentuk gerobak pengangkut barang dengan kereta perorangan yang ditarik oleh kuda.
Sejak sekitar tahun 1880, trem bertenaga kuda telah digantikan oleh trem bertenaga uap. Di dalam kota di negeri Belanda, kuda – kuda masih dipakai untuk menarik angkutan umum itu pada tahun 1881, orang orang Jerman menawarkan rit pertama dengan trem listrik.
Beberapa tahun kemudian, seorang Belanda yang bernama Vaals mendapatkan ide cemerlang yang memungkinkan penyaluran aliran listrik dari atas tubuh trem(bovenleiding) untuk menjalankanya (sehingga tidak perlu membongkar jalan untuk membuat saluran listrik itu). Sejak itu baik trem yang bertenaga kuda maupun trem yang bertenaga uap dilengkapi dengan alat itu sehingga akhirnya di Belanda terbentuk jaringan trem listrik yang lebih murah daripada jaringan kereta api.
Walaupun ide electrische bovenleiding (aliran listrik jalur atas) ditemukan pada tahun 1884, ide itu baru dapat di peraktekan tahun 1899. Trem pertama di seluruh wilayah Kerajaan Belanda yang menggunakan ide inovatif itu adalah trem listrik di Batavia. Pada waktu itu angkutan umum di dalam kota dilayani trem bertenaga kuda dan kereta – kereta kuda yang bisa disewa oleh siapapun. Jalur kereta api juga sudah ada diantara Batavia dan Buitenzorg (Bogor) sejak tahun 1873.
( Frieda.amran@yahoo.com, anggota Asosiasi Antropologi Indonesia )

Sabtu, 10 September 2011

Masjid Istiqlal Dirancang Seorang Protestan



Tentu anda pernah mendengar nama Masjid Istiqlal, bukan? Masjid ini terletak di dekat kantor Presiden RI, juga berjarak sekitar dua ratus meter dari Lapangan Banteng. Jika ada peristiwa – peristiwa penting keagamaan, Presiden RI bersama sejumlah petinggi negaralain dan duta besar negara sahabat, selalu hadir disini.
Masjid Istiqlal diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tahun 1978. kini Istiqlal, yang berarti “merdeka”, menjadi masjid nasional sekaligus masjid terbesar di tanah air, bahkan masjid terbesar di Asia Tenggara. Dengan luas bangunan sekitar empat hektar dan luas tanah sembilan hektar kompleks Istiqlal mampu menampung hingga 70 ribu orang sekaligus pada waktu bersamaan. Selain memiliki bangunan induk dan kubah, Istiqlal dilengkapi dengan emper penghubung, teras raksasa dan menara, taman, air mancur, serta ruang wudhu yang luas.
Masjid Istiqlal dibangun selama 17 tahun, dimulai pada 24 Agustus 1961, ditandai peletakan batu pertama oleh Presiden Soekarno. Rencana pembangunan Istiqlal sendiri muncul pada ytahun 1950. saat itu menteri agama, KH Wachid Hasyim, melansir gagasan membangun sebuah masjid yang berskala nasional dan mencerminkan jati diri bangsa Indonesia. Bersama Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto, dan Ir Sofwan, mereka membentuk yayasan Masjid Istiqlal.
Pada tahun 1954 Presiden Soekarno menyetujui gagasan tersebut. Diputuskan bahwa arsitektur masjid disayembarakan secara terbuka. Presiden Soekarno sendiri yang menjadi Ketua Dewan Juri, dibantu Ir Rooseno, HAMKA ( Haji Abdul Malik Karim Amrullah ), dan Oemar Husein Amin. Pada 5 juli tahun 1955 panitia sayembara mengumumkan desain yang berjudul “Ketuhanan” sebagai pemenang. Perancangnya adalah Frederich Silaban, seorang arsitek yang kelak disebut Soekarno sebagai “ By the Grace of God ”.
Jatuhnya pilihan pada rancangan tersebut, tentu bukan suatu kebetulan, ada dua koinsidensi yang menarik disini. Pertama, Silaban merupakan seorang penganut Protestan yang taat. Kedua, posisi Istiqlal berhadapan dengan Gereja Katedral di sebelah selatan.
Dua koinsidensi yang muncul dibalik pembangunan Masjid Istiqlal, menunjukan bagaimana konsep toleransi beragama dikembangkan begitu halus dan sistematik. Tradisi toleransi beragama seperti ini harus menjadi salah satu penanda jati diri nasional.

( Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya )

Riwayat Olimo



Bila naik bus Transjakarta dari atau menuju ke halte Jakarta Kota, nama halte Olimo selalu disebut. Letaknya tak jauh dari kawasaan Glodok atau Manggabesar. Sejak lama memang nama Olimo Sudah Populer ditelinga masyarakat. Sopir – sopir angkutan umum pasti mengenal nama ini. Olimo, Bagaimana riwayatnya?..
Nama Olimo berasal dari nama perusahaan Belanda NV Olimo yang berdiri pada tahun 1914. perusahaan ini bergerak di bidang otomotif, antara lain mengimpor aksesori, suku cadang, minyak pelumas, dan vernis. Dalam iklan – iklan media cetak tahun 1940-an, nama NV Olimo masih populer. Kantor pusat perusahaan ini berlamat di 121 Molenvliet Oost. Sementara kantor cabangnya yang lumayan besar terdapat di bandung, Surabaya, dan medan.
Kala itu nama Olimo hampir selalu dihubungkan dengan kalangan berduit. Mungkin bisa dimaklumi karena hanya orang – orang kaya yang mampu memiliki mototr dan mobil. Lokasi Olimo disisi Sungai Ciliwung yang ramai, menjadikan namanya tidak lepas dari ingatan. Kini lokasi NV Olimo berada di belokan Jalan Hayam Wuruk ke arah Jalan Manggabesar.
Pesatnya perdagangan menjadikan Olimo semakin memudar perananya. Pada tahun 1970-an sempat berubah menjadi PT. Olimo, namun akhirnya tidak bisa menghindar dari ketatnya persaingan bisnis. Akhirnya pada tahun 1990-an gedung Olimo dibongkar, berganti menjadi gedung bank. Hanya namanya tetap melegenda, mungkin tetap bertahan sepanjang masa.
Berbagai usaha atau kantor kemudian banyak memakai nama Olimo. Yang lumayan terkenal adalah Bubur Olimo. Rumah makan ini menjual bubur ayam. Keberadaanya dikawasan itu termasuk langgeng karena mampu bertahan hingga kini. Bubur Olimo yang semula dikenal sebagai bubur hostes, berdiri sejak 1950-an. Saat ini ditangani oleh generasi ketiga.
Disebut bubur hostes karena ketika itu ( tahun 1970-an ), bisnis hiburan malam termasuk night club dan kasino, marak di Jakarta. Pengunjung night club dan kasino sering makan bubur ayam ditemani para hostes ( pramuria ). Karena citra hostes kurang bagus namun populer, jadilah nama itu yang dipakai. Selain rumah makan, beberapa perusahaan memakai nama Olimo, diantaranya biro jasa, perumahan, and kantor pengacara

( Djulianto Susantio, pemerhati sejarah dan budaya )

Kapiten Cina



Ketika VOC menduduki Batavia pada tahun 1619, ada kurang lebih 400 orang Cina yang hidup disana. Jumlah ini meningkat jadi 800 orang pada tahun berikutnya. Ketika Jan Pieterszoon Coen ditunjuk sebagai Gubernur, dia dia memutuskan untuk menunjuk seorang kapiten ( kapten ) yang menjadi pemimpin mereka untuk menyelesaikan masalah – masalah kecil dalam kelompoknya.

Kapiten yang pertama ini adalah Souw Beng Kong, yang kemudian menajdi teman baik Coen. Tugas kapiten Cina adalah menangani administrasi bagi penduduk Cina yang akan keluar, menetap atau akan menikah, selain itu mereka juga menangani masalah kejahatan, pesta – pesta dan izin – izin.

Tugas lain yang penting adalah menangani berbagai macam pajak, misalnya : Pajak jalinan rambut panjang, Pajak kuku panjang ( menandakan orang kaya yang sanai ), Pajak judi dan candu ( Alwi Shahab, 2001 )
Pelantikan seorang kapiten diadakan sangat meriah. Tahun 1685 merupakan puncak sejarah dari berbagai upacara ini, menurut deskripsi Hoetink, calon kapiten ke kantor Kotapraja dalam sebuah tandu yang dipikul oleh delapan orang dan di dahului ratusan budak yang membawa bendera serta lentera serta ratusan orang Cina yang membawa lambang – lambang kekuasaanya. Setiba di kantor Kotapraja, keputusan Gubernur Jenderal mengenai pengangkatanya dibacakan di depan umum dan terdengarlah dentuman meriam ( Myra Sidharta, 1994 ).

Jabatan Kapiten Cina, dengan kekuasaanya yang besar, memang merupakan posisi prestisius hingga mereka akan melakukan berbagai cara untuk melakukanya, antara lain : menjamu para pegawai Kompeni dengan minuman – minuman keras dirumahnya, juga menyuap dengan memberikan recognitiegeld ( uang yang dibayar setiap tahun sebagai pengakuan atas hak ).

Bahkan pernah ada orang Cina yang berjanji akan memberikan tanah diluar kota kepada anggota pemerintahan Cranssen ( 1812 ). Memang pangkat perwira bisa memberi kehormatan dan kekayaan, karena dari pemasukan judi dan candu sebesar 45 ribu Ryksdealders (Rds )/tahun, perwira Cina mendapat 15 ribu Rds/tahun ( Ensiklopedi Jakarta, Jakarta.co.id ). Namun seiring perkembangan jaman, peran dan kekuasaan Kapiten Cina perlahan – lahan mulai memudar.

( Lily Utami, pemerhati social dan budaya )